Orang yang tak percaya akan kesucian Ka‘bah tentu akan menganggap aneh perilaku seperti thawaf dan mencium Hajar Aswad, dan seterusnya. Bahkan boleh jadi para pelakunya tampak seperti orang-orang tidak waras.
Dan kita tak perlu gusar. Khusus dalam soal haji, unsur kegilaan ini sedikitnya diakui juga oleh orang Islam sendiri. Tapi tentu bukan sembarang kegilaan. Ada maksud dan rahasia tertentu dibalik kegilaan yang “disengaja” ini.
Ambillah “kegilaan” jamaah untuk bersusah payah berdesak-desakan dengan jutaan jamaah lainnya untuk sekadar mencium Hajar Aswad. Apa bedanya dengan perilaku menyembah berhala, atau perilaku orang-orang primitif menyembah totem, sebagaimana banyak diteliti oleh para sosiolog awal semacam Emile Durkheim.
Hingga Umar bin Khathab pun, ketika akan mencium Hajar Aswad, sambil menangis tersedu-sedu ia berkata, “Hei batu, kau hanyalah batu yang tak mendatangkan manfaat atau mudharat apa pun. Tak akan kumenciummu kalau saja tak kulihat Rasulullah menciummu.”
Rasio orang sekaliber Umar tentu akan menolak untuk memuja sebongkah batu. Tapi, rasa ketundukannya yang sedemikian rupa kepada Rasulullah telah mengalahkan rasionya.
Dilihat dari posisinya dalam urutan rukun Islam, haji seolah merupakan pamungkas dari rukun-rukun yang lain. Menurut Al-Ghazali, hal ini menyimbolkan puncak ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya.
Sedemikian tingginya tingkat haji ini sehingga Al-Ghazali mengatakan, Allah sengaja memerintahkan perilaku-perilaku yang tak disukai jiwa dan tak masuk akal seperti melempar jumrah dengan bebatuan dan mondar-mandir antara bukit Shafa dan Marwah.
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra Sumber: Adversity Spiritual Quotient (ASQ) oleh C Ramli Bihar Anwar









































